Jumat, 29 Januari 2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada zaman modern sekarang ini kehidupan manusia sangat komplek sehingga mereka disibukkan oleh kebutuhan duniawi. Karena kesibukan-kesibukan duniawi itulah kebanyakan dari kita belum begitu paham dan mempraktekkan nilai-nilai luhur dalam aqidah islamiyah. Banyak masyarakat yang belum mengerti apakah arti aqidah Islamiyah dan fungsi dari Aqidah Islamiyah itu sendiri.

Sesungguhnya manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk bertauhid di dalam aqidah Islamiyah karena kemampuan akal pikiran yang dimiliki itu mengarahkan pada sikap yang rasionalistik bahwa Tuhan yang pantas disembah dan ditakuti adalah Allah yang Esa yang memiliki kekuasaan Absolur.

Sikap tauhid dalam aqidah Islamiyah sesungguhnya merupakan firman manusia, tetapi persentuhan dengan dunia luar yakni budaya yang semakin beragam terutama dimensi symbol bisa memperkuat atau meluluhlantakkan nilai-nilai aqidah Islamiyah tersebut, karna dimensi Symbol adalah rekayasa manusia untuk memberi makna bagi kehidupannya sangat berpengaruh dalam kehidupannya sehari-hari.

1.2 Rumusan Masalah

Pemahaman agama secara normatif memberi bobot muatan ajaran agama Islam yang bersumber dari Al Qur`an dan Assunah, baik dibidang aqidah, ibadah maupun akhlaq manusia. Tanpa sistematika ajaran tersebut maka tidak akan mempunyai landasan dasar yang kokoh dan tidak akan dapat berkomunikasi kepada sesama secara baik sesuai dengan ajaran agama.

Adanya norma agama yang berlandaskan wahyu itulah yang sesungguhnya membedakan agama sebagai bagian masyarakat yang mempunyai corak tersendiri.

Pada keempatan inilah penulis mencoba menguraikan masalah-masalah yang ada didalam makalah ini.

Rumusan masalah yang akan penulis bahas antara lain :

1. Pengertian aqidah islamiyah

2. Sumber-sumber aqidah islamiyah

3. Hubungan aqidah, keimanan dan perbuatan

4. Hal-hal yang menguraikan dan melemahkan aqidah Islamiyah

1.3 Ruang lingkup Aqidah

Sebelum membicarakan ruang ingkup aqidah Islamiyah, perlu diketahui bahwa memiliki kesamaan atau hampir semakna dengan istilah aqidah diantaranya iman (menurut ulama Salaf : sesuatu yang diyakini didalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan) dan tauhid (Mengesakan Allah SWT) dan yang semakna dengan ilmu aqidah yaitu Usuluddin (pokok-pokok agama), ilmu kalam (pembicaraan) dan fikih Akbar (fikih besar).

Aqidah islamiyah yang kita bicarakan disini menurut Hasan Al Banna menunjukkan empat bidang yang berkaitan dengan lingkup pembahasan mengenai akidah, yaitu :

  1. Ilahiyyah, pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan illah (Tuhan, Allah) seperti wujud Allah, Asma Allah, sifat-sifat yang wajib ada pada Allah dan lain-lain).
  2. Nubuwwat, pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan rosul-rosul Allah, kitab suci, mukjizat dan lain-lain)
  3. Ruhanniyat, pembahasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan alam roh atau metafisik seperti malaikat, jin, iblis, setan, roh dan lain-lain).
  4. Sam’iyyat, pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa di ketahui melalui sam’I (dalil naqli : Al Qur`an dan Assunah) seperti surga – neraka, alam barzakh, akherat dan lain-lain.

Beberapa ulama juga menunjukkan lingkup pembahasan mengenai aqidah Islamiyah dengan arkanul iman (rukun iman) yang meliputi :

  1. Iman kepada Allah

Beriman kepada Allah adalah membenarkan dengan yakin akan eksistensi Allah dan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya, Penciptaan alam seluruhnya maupun dalam penerimaan Ibadat segenap hamba-Nya, serta membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mempunyai sifat kesempurnaan dan terhindar dari sifat kekurangan.

  1. Iman kepada para malaikat-Nya

Beriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempunyai makhluk gaib bernama malaikat yang tidak pernah durhaka kepada-Nya, senantiasa melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya.

  1. Iman kepada kitab-kitab suci-Nya

Iman kepada kitab-kitab suci-Nya adalah mempercayai bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Nabi dan Rosul

  1. Iman kepada Rosul-Rosul-Nya

Iman kepada Rosul Allah adalah mempercayai bahwa Allah telah mengutus Rosul sebagai perantara untuk menyampaikan pesan kepada umat manusia yang berupa wahyu untuk dijadikan pedoman hidup agar selamat didunia dan akherat. Rosul juga memberi contoh teladan yang sebaik-baiknya bagi umatnya.

  1. Iman kepada hari akhir

Iman kepada hari akher adalah mempercayai adanya kehidupan yang kekal sesudah kehidupan didunia yang fana ini. Berakhir termasuk proses terjadinya yang terjadi pada hari akhir itu mulai dari hancurnya kehidupan alam semesta dan isinya (qiyamah) sampai kepada pembalasan dengan surga atau neraka (jaza’)

  1. Iman kepada takdir Allah

Iman kepada takdir Allah adalah mempercayai bahwa Allah telah memberi kadar, memberi ukuran, memberi batas tertentu dalam diri, sifat ataupun kemampuan maksimal pada makhluknya.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Aqidah Islamiyah

Secara etimologi (lugharan) aqidah berakar dari kata aqada ya qidu, aqdan, ‘aqidaran. Aqdan berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah terbentuk menjadi aqidah berarti keyakinan. Relevansi antara arti Aqdan dan Aqidah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kokoh didalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.

Sedangkan secara terminologi (ishthilahan) terdapat beberapa definisi (ta`rif) antara lain ;

1. Menurut Hasan al Banna

Hasan Al Banna mengatan bahwa aqa’id (bentuk jama dari aqidah) artinya beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hatimu, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.

2. Menurut Abu Bakar Jabir Al Jazairy

Abu Bakar Jabir Al Jazairy mengatakan bahwa aqidah adaah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan firman. Kebenaran itu dipastikan oleh manusia di dalam hati dan diyakini kesahihan dan kebenarannya secara pastu dan ditolak dengan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Berdasarkan kedua pengertian tersebut dapat ditarik beberapa butir kesimpulan sebagai berikut :

1. Setiap manusia memiliki fitrah tentang adanya Tuhan yang didukung oleh adanya hidayah allah yang berupa Indra, akal, agama, (wahyu) dan taufiqiyah (sintesis antara kehenda Allah dengan kehendak manusia). Oleh karena itu manusia yang ingin mengenal Tuhan (Allah SWT) secara baik harus mampu menfungsikan hidayah-hidayah tersebut.

2. Keyakinan sebagai sumber utama aqidah itu tida boleh bercampur dengan keraguan sedikitpun.

3. Aqidah yang kuat akan melahirkan ketentraman jiwa

4. Tingkat aqidah seseorang bergantung pada tingkat pemahaman terhadap ayat-ayat qauliyyah dan kauniyyah.

Aqidah biasanya dijumbuhkan dengan istilah Iman yaitu “sesuatu yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan”. Aqidah juga dijumbuhkan dengan istilah tauhid yakni mengesakan Alloh (Tauhidullah).

Aqidah atau iman merupakan pondasi ajaran agama Islam yang sifa ajarannya pasti, mutlak kebenarannya, terperinci dan monoteistis. Ajaran intinya adalah mengesakan Tuhan (Allah) atau Tauhid. Oleh karena itu, ajaran aqidah Islam yang tauhid sangat menentang segala bentuk kemusyirikan.

II. 2 Sumber-Sumber Aqidah Islamiyah

Sumber aqidah Islamiyah adalah aqidah Islam adalah Al-Qur`an dan Sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Qur`an dan oleh rosululloh dalam sunnahnya wajib diimani (diyakini dan diamalkan).

Akal pikiran tidaklah menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahamai nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut, dan mencoba kalau diperlukan, membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur`an dan sunnah. Itupun harus didasari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah.

Akal tidak mampu menjangkau masalah ghaibiyah (masalah gaib) bahkan akal tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Misalnya akal tidak akan mampu menjawab pertanyaan kekal itu sampai kapan ? atau akal tidak akan mampu menunjukkan tempat yang tidak ada didarat, diudara, dilautan dan tidak ada dimana-mana. Karena kedua hal tersebut tidak terikat dengan ruang dan waktu. Oleh sebab itu akal tidak boleh dipaksa memahami hal-hal ghaib tersebut dan menjawab pertanyaan segala sesuatu tentang hal-hal ghaib itu.

Akal hanya perlu membuktikan jujurkah atau bisakah kejujuran di pembawa berita tentang hal-hal ghaib tersebut dibuktikan secara ilmiah oleh akal pikiran manusia.

II.3 Hubungan Aqidah, Keimanan dan Perbuatan

Hubungan aqidah keimanan dan perbuatan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Sebelumnya maka kita perlu mengetahui apa arti dari aqidah, iman dan ahlak atau perbuatan itu sendiri.

Aqidah adalah keyakinan yang tersimpul dengan kokoh didalam hati, bersifat mengikatdan mengandung perjanjian

Keimanan atau iman adalah meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan. (Hadist riwayat Thabrani).

Perbuatan atau akhlak menurut Al Ghazali adalah ihwal batin manusia yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan-pertimbangan yang mendahuluinya.

Kecenderungan manusia untuk melakukan perbuatan menemukan bentuk yang lebih sempurna manakala perbuatan itu ditandai oleh tauhid atau iman yang benar. Dalam hal ini iman bukan merupakan tujuan akhlak, melainkan dasar bagi pelaksanaan akhlak atau perbuatan yang mulia. Perbuatan yang du dasari oleh iman dan dijiwai oleh syartiat Islam aan menimbulkan perbuatan yang terarah, terencana dan terkendali, sehingga terjaga dari perbuatan yang merugikan baik dirinya sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S An Shaf (61) : 2 – 3 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”

Aqidah dalam ajaran Islam merupakan dasar bagi segala tindakan muslim agar tidak terjerumus kedalam perilaku-perilaku syirik. Syirik di sebut kezaliman karena perbuatan itu menempatkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya. Oleh karea itu seorang muslim akan menjaga segala perbuatannya dari hal-hal yang berbau syirik, baik syirik kecil maupun syirik besar. Orang yang memiliki aqidah benar maka ia akan mampu mengimplementasikan tauhid itu kedalam bentuk akhlak atau perbuatan yang mulia.

Allah berfirman dalam Q.S Al An’aam ayat 82 yang artinya :

“Orang-orang yang beriman dan tidak akan menodai iman mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat ketentraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah”.

Orang-orang yang menempati jalan hidayah adalah mereka yang bersyukur, sehingga perbuatan mereka senantiasa sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Inilah yang dimaksud dengan akhlak mulia.

II. 4 Hal-hal yang Menguatkan dan Melemahkan Aqidah Islamiyah

Konsep kekuatan manusia dalam aqidah didasari oleh tiga unsur, yaitu :

Pertama, berkaitan dengan tugas manusia di alam semesta yakni sebagai kholifah dimuka bumi. Dalam hal ini Allah telah menganugerahi manusia dengan kemampuan akal, sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al Baqoroh : 30 yang artinya :

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”, mereka berkata : Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) dimuka bumi, itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya, dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji Engkau dan menyucikan Mu ?” Allah berfirman : “sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Kedua, ditundukkan alam semesta bagi manusia, karena alam diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia sebagaimana firman Allah dalam Q.S Luqman 20 : 29 yang artinya :

“Tidakkah engkau perhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia tundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan sampai waktu yang ditentukan”.

Ketiga, dimuliakannya manusia oleh Allah dan dipandang sebagai makhluk terbaik diantara para makhluk lainnya, sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al Israa : 70 yang artinya :

“Dan sesungguhnya kami telah muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan dilautan. Kami beri mereka dari rezeki yang baik-baik, dan kami lebihjan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan”.

Inilah beberapa prinsip tauhid sebagai salah satu landasan aqidah dalam ajaran Islam.

Ada beberapa faktor penyebab yang dapat menguatkan aqidah orang yang bersangkutan terjaga dari perbuatan yang mengarah pada kesyirikan.

Pertama, sikap selalu memperbaharui syahadat sehingga orang-orang yang bersangkutan terjaga dari perbuatan yang mengarah pada kesyirikan.

Kedua, sikap tidak mudah terpengaruh oleh situasi yang cepat berubah dan menjanjikan hasil secara cepat (budaya instan) sesuatu yang cepat berubah akan cepat menjadi usang.

Ketiga, sikap asyik beribadah sehingga membentuk pribadi yang kokoh dan tidak mudah tergoda oleh pesona kehidupan duniawi.

Keempat, sikap berhati-hati dalam beribadah dan ada rasa kekhawatiran bahwa nilai ibadahnya masih jauh dari sempurna.

Kelima, sikap tawakal yang tidak menenggelamkan pertimbangan akal sehingga tidak terpuruk kedalam sikap fatalistik.

Keenam, sikap menyadari kelemahan dirinya sebagai manusia terutama godaan hawa nafsu, sehingga senantiasa memohon perlindungan dari Allah SWT.

Sebaliknya ada beberapa penyebab yang dapat melemahkan aqidah Islamiyah diantaranya :

Pertama, manusia terlalu mengagungkan kemampuan akal, sehingga baik secara langsung atau tidak telah mengganti kekuasaan Allah dengan akalnya.

Kedua, manusia kurang menggunakan akal sehingga mudah terkelabuhi oleh kekuatan-kekuatan semua yang menjerumuskannya kedalam takhayul-takhayul.

Ketiga, manusia terlalu membesar-besarkan kehidupan duniawi sehingga lalai akan kehidupan kekal di akherat nanti. Manusia yang lalai akan kehidupan akherat adalah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung meremehkan Allah.

Keempat, manusia terlalu mengejar kehidupan materiil sehingga melalaikan kehidupan spiritual. Pada hal kehidupan spiritual mengandung kedalaman dimensi dan kedekatan pada Allah.

Kelima, manusia memiliki kemampuan menciptakan simbol-simbol baru dan menganggapnya sebagai kemajuan sehingga lalai pada syimbol-syimbol ketauhidan yang murni. Misalnya : perubahan yang disebabkan oleh kemajuan Iptek dipandang lebih hebat daripada kekuatan berzikir sehingga ecara perlahan-lahan peran Allah SWT digantikan oleh IPTEK.

Jumat, 22 Januari 2010

aripujiatmoko fkip tekhnik mesin UST 2009